Thursday, November 12, 2009

Mereka Bicara JK

Siapa suka pak Jusuf Kalla?mantan wapres kita di cabinet SBY yang lalu. Saya yakin gak begitu banyak orang suka beliau, berbagai alasan yang pasti banyak orang kurang berkenan karena alasan style keras beliau dan berbagai apriori atas tuduhan miring peran gandanya sebagai Wapres dan saudagar asal Bugis. Orang berfikir, beliau akan memanfaatkan jabatan untuk keuntungan bisnis raksasanya. Semua tuduhan itu wajar adanya..manusia di Indonesia sudah muak dengan polah tingkah para pejabatnya, sehingga satu orang besar hadir di kancah politik Indonesia jelas akan tertutup oleh kisah sedih masa lalu bangsa.

Saya salah satu orang pengagum Jusuf Kalla, well..saya bukan orang yang biasa mengumbar arah dan pemikiran politik saya, saya menulis ini sebagai bentuk kekaguman atas pribadi seorang Jusuf Kalla bukan pada perahu dimana ia diusung pada saat pertarungan politik PEMILU 2009 lalu.

Awalnya saya tidak tau siapa dan bagaiamana track record si pak Wapres, toh di PEMILU 2004 saya jujur, kalo saya GOLPUT. Saat itu saya malas menjadi konstituen, muak adalah alasan dasar saya. Di tahun 2009 saya sadar saya adalah warganegara yang buruk dan pengecut, untuk memilih calon pemimpin saja pake trauma segala. Maka sejak itu saya bertekad untuk mempelajari semua kandidat presiden yang disodorkan Parpol di PEMILU 2009.
Muncul nama MEGAWATI SOEKARNO PUTRI, meski sudah lalu lalang di kancah politik,saya gak mengenal banyak akan sosoknya, maka saya riset banyak tentang dia,saya ulas lagi pemerintahannya yang lalu,namun saya gak jua jatuh cinta pada pemikirannya. Lalu giliran SOESILO BAMBANG YUDHOYONO yang merupakan President Incumbent,gak sulit menelusuri track record dan menyelami pemikirannya,saya bukannya tambah suka malah tambah gak sepakat,apalagi mau jatuh cinta,jauh deh…Saya hampir males untuk melihat si kandidat satunya,karena kabarnya si kandidat satunya itu akan kembali digaet SBY untuk berduet. Akhirnya saya off mencari literasi akan trackrecord kandidat satunya,yaitu MOHAMAD JUSUF KALLA.




Ditengah kegamangan itu,saya menghadiri sebuah acara dimana saat itu hadir Presiden dan Wapres beserta pasangan masing-masing, jujur ini bukan kali pertama saya menghadiri acara yang sama dihadiri kedua orang number one RI itu,tapi karena saya yang emang gak simpatik jadi saya cuek aja,saya gak pay attention sama sekali. Tapi saat itu, entah kenapa saya tertarik melihat kedua bapak ini beratitude di muka umum, tiba-tiba semacam rasa jatuh cinta,tiba-tiba saya terhipnotis melihat JK,ia seperti mengeluarkan aura tertentu, sikapnya santai dan penuh tawa,saya kaget melihat seorang pejabat tinggi begitu santai pada seluruh ajudannya,bisa dibilang ajudannya tidak seperti mengawal orang penting, dan satu lagi sikapnya yang luar biasa menyentuh,caranya memperlakukan sang istri,ada rasa hormat dan mengagumi yang kentara saat ia menatap dan meraih tangan sang istri untuk digandeng. FYI,pasangan ini tak ubahnya pasangan manula,secara fisik mereka hanya kakek dan nenek belaka,tapi entahlah aura kasih sayang itu menyudutkan saya dan membuat saya sebagai pasangan muda merasa iri. Touche!saat itu saya simpatik akan kepribadian unik si Wapres yang dari tampilan luar keliatan nyebelin dan judes, tapi inside menyimpan berjuta rasa kasih,kebaikan dan kepedulian.

Itulah awalanya saya merasa tertarik mencari begitu banyak bahan untuk mengenal sosok seorang JK. Berbagai bahan saya kumpulkan, setiap di bicara di TV saya perhatikan,saya pelajari alur pemikirannya. Kemudian muncul keputusan dia mencalonkan diri jadi Wapres mewakili partai GOLKAR,diam-diam saya kecewa,karena beliau yang menggandeng WIRANTO saat itu hampir bisa dipastikan bakalan kalah telak, SBY terlalu kuat, dan budaya masyarakat kita masih melihat sesuatu dari sebuah pencitraan semata, dan SBY unggul untuk itu.

Semakin gaung pencalonan JK bertabuh keras,saya semakin rajin membaca tentang dia,mempelajari alur pemikiranya melihat dan berpendapat akan sesuatu,saya semakin suka semakin terinspirasi,namun firasat saya akan kekalahan beliau di Election semakin besar. Suami saya yang giat memperhatikan perkembangan pemilu pun kerap cerita bahwa peluang JK itu makin jauh,SBY maha kuat saat ini. Tapi saya sudah kadung suka sama kandidat saya,peduli mau menang atau kalah. Toh saya bertekat untuk menjadi konstiuen yang berani menerima kemenangan maupun kekalahan pilihan saya,buat saya adalah suatu hal konyol jika kita memilih seseorang di PEMILU hanya karena dasar pertimbangan kans menang dan tidak, bukan berdasarkan bisikan hati nurani. Maka saya memilih dengan hati nurani saya, JK adalah pilihan saya. Meski memilih JK saya harus tutup mata melihat pendampingnya yang sampai botak pun saya pelajari sosoknya tetap tidak bisa menyulkainya barang 1% saja.

Dan benar apa prediksi saya,JK kalah telak!eventh sama MegaPro sekalipun. Saya agak kesal karena kekalahan itu luar biasa anjloknya.Entah siapa mengkhianati siapa,saya gak tau,nasi sudah jadi bubur, dari awal pilihan saya emang kans nya berat.
Tapi saya kembali lagi diberi ‘kejutan’ ,kandidat saya tetap tersenyum dan berbesar hati dengan mengucapkan selamat pada SBY sang pemenang atas kemenangan di Election,mata saya panas oleh air mata karena saya terharu,betapa pilihan saya mengajarkan sebuah demokrasi yang sehat pada masyarakat. Dari sikap sederhananya untuk mengucapkan selamat pada pemenang sudah menandakan ia menerima kekalahannya dan mendukung sang Pemenang,ada berapa banyak pemimpin kita yg mampu menerima kekalahan?Isue panas Megawati VS SBY saja masih memanas hingga saat ini,lantas JK memberi warna baru bagi iklim demokrasi Negara kita.Ia lempeng menerima kekalahan,seakan tidak terjadi apa2 ia tetap menjalankan tugas disaat terakhir,ia tetap menjadi Wapres yang dulu..sampai akhir masa jabatannya,at least kesan itu yang ditangkap oleh masyarakat,ia tidak ribut2 atas kekalahannya....

Lamat-lamat dalam hati saya berkata,saya yakin akan ada rasa rindu dibeberapa kalangan akan kehadiran sosok pemimpin seperti beliau,karena jarang pemimpin di Indonesia berani bersikap keras dan apa adanya tanpa peduli akan tercompang camping seperti apa imagenya kelak..tapi itulah JK,si manusia baja,bisa dibilang saya cinta mati sama sosok ini.


Keyakinan saya akan siapa itu JK terkuak kemudian, beberapa hari lalu saya gak sengaja melihat buku baru berjudul MEREKA BICARA JK, ini bukan buku biografi dimana seseorang narsis menulis tentang dirinya sendiri. Ini adalah kumpulan kesaksian atau testimony banyak orang tentang sosok JK. Kalo para penulisnya adalah anggota Klan JK yang berasal dari partai Golkar saja sih saya sarankan anda buang saja tuh buku,sama aja boong. Tetapi para penulis testimony di buku ini berasal dari banyak kalangan, termasuk petinggi-petinggi media, dan orang –orang lain yang bisa dipertanggungjawabkan kredibilitas dan moralnya. Ada sederet nama mulai dari Wartawan senior Rosihan Anwar, Rosiana Silalahi, Najwa Shihab, Mutia hafidz,Jacob Oetama dll.

Mereka menulis siapa itu JK,kesan ketika berinteraksi dengan JK dan gaya leadership seorang JK. Kalo boleh saya bilang saya menitikkan air mata,tertawa dan belajar di buku itu.Gak mungkin orang-orang itu bohong akan apa yang mereka tulis,mereka orang-orang yang gak mungkin melakukan kebohongan public.
Hampir semua penulis menyatakan bahwa JK itu:
1. Gak bisa dibohongin,karena ingatannya kuat dan detail,semua anak buahnya (mentri-mentri dan kepala badan) tau kebiasaan JK untuk menuliskan PR anak buahnya yang masih pending di sebuah kertas post it kuning yang ditempel di depan meja kerjanya .
2. Dia bukan tipe ABS (asal bapak senang),dia senang didebat dan dikoreksi, dari mentri sampe ajudan bersaksi kebenaran hal ini.
3. Ia sosok yang sederhana
4. Memiliki kebiasaan menghitung segala hal sebelum memutuskan,ia selalu minta disiapkan kalkulator (meski kalkulator yg hanya bisa tambah,kurang bagi dan kali),ia kerap mengantongi pulpen murah dan notes kecil untuk menctat segala sesuatu temuan yang ia dapatkan di lapangan.
5. Ia sesosok pemimpin yang praktis,ia mampu membuat arahan-arahan teknis sehingga anak buah mampu mengikuti alurnya
6. Ia adalah seorang problem solver dan tangkas
7. Ia adalan man on crisis,saat genting ia lah tempat yang tepat untuk didatangi karena selalu punya ide cemerlang
8. Ia adalah sosok pemimpin siaga,siap 24 jam,dan mudah ditemu dan dihubungi

Dan hampir seragam,semua penulis menyesali berpisahnya SBY dan JK,karena mereka berpendapat SBY- JK adalah kombinasi yang komplit, SBY sebagai sosok yang berfikir jauh sedangkan JK adalah sosok yang mampu menelurkan ide2 briliant untuk jangka pendek dan menengah, JK seolah orang yang tepat menguraikan ide-ide SBY. Namun mereka (penulis testimony) pun berpendapat bahwa perbedaan kultur SBY dan JK lah yang menjadi satu-satunya penghalang, dan mungkin itulah yang kurang disikapi dengan positif sehingga terjadilah ‘perceraian’ itu.


Saya gak kampanye tentang siapa itu Jusuf kalla,saya hanya ingin berbagi, di Negara ini masih ada sesosok bapak bangsa, negarawan sejati, meskipun ia berlatar belakang sebagai saudagar…
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini, gak perlu merasa membaca kebohongan karena itu bukan biografi,itu kesaksian jujur dari puluhan orang terhadap seseorang,dan para penulis testimony sebagian besar adalah orang yang gak perlu diragukan kredibilitasnya.

Selamat membaca!

Tuesday, October 13, 2009

Menikmati Hidup tanpa Pembantu Rumah Tangga (PRT)

Saya sering kali iri melihat kehidupan orang di Negara maju, rata-rata orang hidup berumah tangga tanpa tergantung orang lain,artinya hampir sebagian besar rumah tangga yang dilakoni oleh penduduk sana tidak menggunakan jasa Pembantu Rumah Tangga. Dan hal itu adalah hal yang lumrah dan yang gak lumrah adalah apabila ada rumah tangga yang dihandle oleh pembantu rumah tangga,artinya keluarga itu pasti begitu kaya raya sehingga mampu membayar jasa pembantu. Saya melihat kehidupan normal tanpa pembantu itu tetap membuat hidup disana berjalan dengan, bahkan banyak orang yang memiliki anak lebih dari 2 pun tetap bisa menjalankan kehidupan dengan begitu lancarnya,dan gak menjadi huru hara seperti di Indonesia,yang masyarakatnya sebagian besar bergantung penuh pada jasa Pembantu rumah tangga. Bahkan saya sendiri pun terjebak dalam belitan ‘kemanjaan’ tersebut. Kenapa saya bilang hal itu sebagai suatu sifat manja?karena saya pun melihat kehidupan orang di Negara maju,mereka bisa hidup tenang dan gak perlu huru hara di rumahnya tanpa pembantu rumah tangga.

Saya adalah produk bentukan masyarakat yang lumayan bergantung sama jasa PRT,orang tua saya keduanya adalah pasangan yang bekerja,sejak saya kecil ortu saya menggunakan jasa PRT untuk mengurus rumah tangga dan mengurus kami. Namun lambat laun ketika kami besar, mama saya mulai menggunakan jasa PRT pulang pergi (tidak menginap) sehingga menuntut saya dan saudara perempuan saya ikut membantu pekerjaan rumah jika pembantu sudah pulang di sore hari. Hal itulah yang mengantarkan saya pada kemampuan memasak dan mengurus rumah. Namun kesalahan orang tua saya adalah tidak membiarkan semua anaknya belajar bekerjasama, anak laki-laki mendapat pengecualian, abang saya seperti di plot untuk gak mengurus rumah, tugas dia hanya mengurus mobil dan binatang peliharaan. Hal tersebut membuat ia menjadi orang yang tidak biasa bekerja rumah tangga Sehingga kami gak pernah berbagi tugas dengannya,padahal ia adalah lelaki yang paling memiliki energy lebih.

Saya yang juga terbiasa mendapat bala bantuan meskipun dari jasa PRT pulang pergi pun merasakan terus menerus tergantung orang lain. Saat ini disaat saya tidak memiliki pembantu tetap di rumah,saya baru menyadari,bahwa selama ini saya telah salah men- threat diri saya. Saya melumpuhkan kemampuan saya bermandiri dan mengurus semua sendiri,saya membiarkan diri saya larut dalam ketergantungan akan PRT,padahal dengan sedikit strategi yg efektif saya pastinya akan bisa.

Saya menyadari hal itu harus diperbaiki secepatnya,maka ketika saya kesulitan pembantu seperti sekarang ini,akhirnya saya mau tidak mau melakoni semua urusan rumah tangga sendiri,tentu dibantu oleh Tori. Yang Alhamdulillah memang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sedikit crita ttg suami saya, dia adalah lelaki modern yang sama sekali tidak merasa tabu untuk mengerjakan urusan rumah tangga maupun mengurus anak. Sejak masih bujangan dia terbiasa berangkat kepasar untuk belanja kebutuhan rumah menggantikan mamanya yang memang sudah sepuh. Suami saya pun biasa mengurus keponakannya untuk hal-hal yang berkaitan dengan toilet. Dan satu hal,suami saya biasa nyuci sendiri dan menjemur bajunya sendiri,tanpa merasa malu kalo ada orang yang melihat. Buat dia pekerjaan rumah tangga itu gak ada masalah kalo dilakonin laki-laki, toh Rasulullah senentiasa membantu istrinya mengerjakan urusan rumah tangga,jadi gak ada yang salah…

Tapi untuk urusan dapur saya harus akui,suami saya tidak pandai dibidang itu,kalau dia ke dapur malah jadi berantakan,jadi kami pun sadar diri mengambil ‘jatah’ masing-masing. Saya ngurusin dapur, dia mencuci dan bebenah, dan urusan Lulla, kami membuatnya flexible,dengan cara membiarkan Lulla memilih kepengen lagi deket sama siapa,kalo lagi pengen sama saya ya saya yang ngurus,tapi kalo saya sibuk dia sama Tori ya mau-mau aja. Yang terpenting saya selalu menyempatkan diri mempersiapkan kebutuhan makanan,susu dan perlengkapan baju gantinya jika dia akan bepergian ikut papa nya ke kantor.

Sebenarnya,kami mampu menjalani rumah tangga tanpa PRT, toh kami sejak lama telah mencari alternative pengerjaan pekerjaan dengan mudah dengan memanfaatkan teknologi. Segala hal kami upayakan mudah dan cepat dikerjakan. Bahkan seperti urusan cuci setrika, dewasa ini telah menjamur jasa cuci dan setrika kiloan, kami pun memanfaatkan hal tersebut,jauh lebih efisien dan efektif!

Yang jadi problem adalah kami berdua bekerja, Lulla gak mungkin kami bawa terus ke kantor. Kalo lagi musim libur sekolah sih gak apa-apa,tapi ketika sudah masuk sekolah kayak gini,apa yang harus diperbuat?apalagi dia memiliki kegiatan les dari senin sampai rabu,maka sepulang sekolah ia butuh istirahat sebelum melanjutkan aktifitas selanjutnya…


Akhirnya saya kembali merecruit seorang pengasuh dan seseorang yg kebetulan meminta bekerja dan bersedia menjadi penjaga rumah. Tapi tugas kedua orang itu hanya untuk menemani Lulla, sambil bebenah,menyetrika dan menjaga rumah selagi kami belum pulang.

Masak ,mencuci ,mengurus keperluan Lulla dan urusan beberes hal-hal kecil lainnya kami tetap lakukan sendiri. Sepulang saya kerja,penjaga rumah dan PRT diperbolehkan pulang, dan pada weekend mereka kami liburkan,kami sendirilah yang melakukan semua pekerjaan rumah.

Entah terlalu dini atau tidak bagi saya untuk mengatakan bahwa hal ini menyenangkan!memang melelahkan bagi saya terutama,karena setiap malam sepulang kantor saya harus menyediakan makan malam,kemudian harus mempersiapkan masakan untuk keesokan harinya.Belom lagi saya harus mengurus keperluan Lulla sekolah dan les keesokan harinya,menyiapkan baju kerja suami untuk besok serta baju kerja saya sendiri.Jujur itu semua melelahkan,jam setengah 9 malam saya udah kelelahan dan siap tidur,tapi saya jadi lebih pagi saat bangun,jam 4 alarm tubuh saya udah membangunkan saya. Jelas menguntungkan bagi saya ,karena saya bisa sempat tahajud,menggerakkan tubuh saya dan dijamin tidak telat solat subuh!

Selain itu saya sendiri sudah merasakan nikmatnya hidup tanpa PRT,seperti yang sudah saya lakoni sejak 17 September lalu,diamana saya dan Tori bekerjasama mengurus anak dan rumah. Saat weekend pun kami jalani bertiga saja. Kami merasa lebih close satu sama lain,saya pun belajar untuk gak ngoyo untuk nyelesaian semua,pokoknya yang penting makanan tersedia dan ruang keluarga bersih. Alhamdulillah kalo dikerjain dengan gak ngoyo selesainya pun happy,gak bikin lelah dan gak jadi beban…

Pagi tadi,ketika suami saya berangkat mengejar flight paling pagi,saya merasa sunyi sekali di rumah,biasanya rumah saya tidak pernah sesunyi ini,tapi saya benar-benar menikmati kesunyian itu,hanya ada saya dan Lulla di rumah,sampai jam enam pagi pak supir datang,saya mulai kehilangan rasa menyengangkan itu…hohoho..saya mulai menikmati hidup yang menjaga privacy..saya mulai mengenal sisi kehidupan meyenangkan lainnya yang selama ini jarang saya rasakan..saya berharap kan datang satu hari nanti saya sekeluarga benar-benar dapat menikmati suasana penuh privacy dan bebas dari ketergantungan pada PRT. Saya berharap banget dapat mendidik Lulla untuk mandiri dan mengerjakan tanggungjawab hidupnya dengan efisien dan efektif. Semoga juga dijamannya nanti dia akan lebih mudah menemukan ‘jalan’ alternative untuk mempermudahnya menjalani tanggungjawab hidupnya…semoga saja kelak daycare di Indonesia akan menjamur kesemua wilayah, dan semoga juga mindset masyarakat lebih maju kedepannya,sehingga tidaka ada lagi manusia yang hanya hidup menjadi PRT,tetapi para PRT ini dapat berkembang mengerjakan peran strategis dalam masyarakat!

Menurut saya kebiasan bergantung pada jasa PRT ini sebenarnya harus kita geser perlahan,jangan biarkan diri kita dibuai oleh comfort zone yang sebenarnya membuat kita jadi lemah. Saya merasakan sendiri hidup hanya dibantu pengasuh anak,dan penjaga rumah,sebagian besar tugas rumah tangga harus saya tangani sendiri,di weekend pun saya dipaksa berubah peran jadi ibu rumah tanga, sungguh sesuatu yang awalnya saya rasa gak mun gkn saya lakonin,gak make sense saya menjalani beban seberat ini. Tapi diperjalanannya saya malah menikmati dan saya enjoy, saya tak lagi sakit hati oleh ulah PRT di rumah yang kerjanya malas-malasan, seenaknya merusak dan sembarangan memperlakukan isi rumah kita yang kita beli dengan susah payah,dan kita melihat tingkah polah aneh itu 24 jam!!

Now saya gak lagi tertekan di rumah saya sendiri,saya gak ngoyo harus begini dan begitu,karena saya sendiri yang mengerjakan,saya mengupayakan untuk mengkur kekuatan saya dan target kerja,yang penting anak dan suami bisa makan sehat,dan rumah juga gak kotor-kotor amat.

Hati kecil saya sudah mampu menerima jika ada yang kurang ini dan itu di rumah, karena saya sudah menganggap bahwa penjaga rumah dan pengasuh setengah hari yang ada itu hanyalah additional player dirumah saya, real player adalah saya dan Tori.

Jadi kalo ditanya, apakah kita bisa hidup tanpa PRT tetap seperti yang sudah-sudah, saya jawab BISA!,kelak jika jasa penitipan anak sudah ada dimana-mana maka saya yakin kita akan memasuki fase kemandirian seperti orang di luar negri.

Pada dasarnya kita pasti bisa asal kita mau…

Monday, October 5, 2009

Super Dad


Gimana interaksi anda dengan ayah anda sejak anda kecil?apakah semua orang merasa close dengan ayah masing2?
Saya rasa tidak…banyak orang yang saya kenal termasuk saya, tidak merasa dekat dengan ayah saya, hubungan saya dengan ayah saya ya gitu aja,dari dulu sampai sekarang papa bukan teman curhat,bukan seseorang yang selalu saya datangi kalo ada masalah,bukan orang yang saya anggap tepat menjadi shoulder to cry on, berbeda dengan mama saya.
Kalo ditanya kenapa saya gak dekat dengan papa?saya bingung juga,entah kenapa?padahal saya tau papa sayang kami semua,tapi kami berempat tidak ada yang dekat dengan papa.

Setelah dirunut lagi,kalo pengalaman pribadi saya,saya tidak dekat dengan saya karena alasan :
1. Papa sejak dulu menunjukkan sikap dictator,seolah berinteraksi dengan papa adalah hal yang menguras emosi dan rasa takut
2. Papa kurang terlibat dalam membantu kami menyelesaikan dan memecahkan hal-hal remeh,papa jarang mengambil alih kepengurusan diri kami
3. Papa jarang punya waktu bermain bersama kami,mungkin waktu kecil iya tapi setelah kami beranjak besar,papa jarang punya waktu untuk bercanda dengan kami
4. Papa tidak membiasakan untuk mendengar keluh kesah kami
5. Budaya jaman dulu menempatkan seorang ayah sebagai orang yang tidak harus disegani sekaligus ditakuti

Bukan saya tidak menyayangi ayah saya dan saya pun tau papa saya juga pastinya sayang sama kami,tapi saya sayangkan salah dalam mengimplementasikan rasa sayang itu sendiri.


Entah apa pertimbangan orang jaman dulu melakukan tindakan semacam itu sama anak-anaknya.Apa mungkin jaman dulu mentalitas anak-anak emang bisa dikerasin seperti itu sehingga anak-anak takut dan efeknya nurut sama orang tua?Atau karena banyaknya waktu yang seorang ayah habiskan untuk mencari nafkah membuat ayah tidak memiliki energy untuk menggali hubungan yang mantap dengan anak?Atau semua ayah merasa setelah tugas mereka mencari nafkah mereka tak perlu lagi terlibat dalam pengurusan anak?atau seorang merasa menjadi dekat dengna anak hanyalah kewajiban seorang ibu semata?

Tapi apakah cara itu efektif mendidik anak-anak kita?apakah sosok ayah harus menjadi sosok yang ditakuti jika hanya ingin anak dapat bekerjasama dengan baik dengan orang tuanya?memiliki anak-anak yang tidak kita miliki hatinya apakah itu yang anda inginkan?
Jawabnya :TIDAK!

Coba bayangkan,jika anak menjadi takut dengan ayahnya,kemana anak akan mencari tempat perlindungan?dengan terbukanya akses komunikasi dewasa ini kita sebagai harus ekstra kerja keras agar kehadiran kita adalah menjadi VIP di benak dan hati anak-anak kita,bukan sebaliknya. Anak harus dikondisikan nyaman dan damai dalam berkomunikasi dan berhubungan dengan kita sebagai orang tuanya. Ibu dan ayah harus mampu menjadi sahabat bagi anak. Semua dilakukan agar anak tidak mencari tempat lain untuk mencurahkan hati dan berbagi,khawatir berbagi di tempat yang salah..

Kalau kedekatan dengan ibu,biasanya hal itu terjadi secara alamiah,sejak dalam kandungan hubungan ibu dan anak sudah menjadi istimewa, dan melalui ASI hubungan emosional anak dan ibunya akan semakin kuat.Lalu bagaimana dengan ayah,apakah mereka memiliki kesempatan untuk secara otomatis memiliki hubungan emosial ?jawabnya :TIDAK.
Seorang ayah harus berupaya lebih keras untuk memiliki tempat di hati anaknya. Gimana caranya?

Dari apa yang saya amati,ayah harus ambil peranan dalam perkembangan anaknya,buat anak nyaman dengan cara:
1. Bantu ibu dalam mengurus anak,misalnya Ibu bertugas menyusui,gak ada salahnya ayah mengambil alih pekerjaan mengganti popok maupun menyuapi anak.
2. Punya waktu khusus hanya untuk sekedar bercanda dan bermain,jika sudah besar dan sudah bisa diajak jalan berdua,sempatkan mengajak anak jalan-jalan ke tempat yang anak sukai tanpa ibunya.
3. Memiliki waktu untuk makan bersama anak entah pagi maupun malam.
4. Memiliki keseriusan dan minat khusus mengikuti perkembangan anak
5. Membangun kebiasaan menjadi teman bicara yang ‘asik’ bagi anak
6. Mengajak anak memahami dan melihat bagaiamana ayah menghabiskan waktu diluar sehingga anak tau pengorbanan yang dilakukan seorang ayah untuknya
7. Dsb…



Adalah cara yang salah apabila seorang ayah yang berupaya merebut hati anak dengan cara melimpahkan anak dengan hadiah-hadiah yang mungkin sebenarnya tidak diperlukan anak itu sendiri,karena hal itu bukannya mampu menempatkan anda sebagai super dad,malah anda telah merusak mental anak anda sendiri menjadi anak manja dan pemboros.

Memang enggak mudah, bagi seorang ayah yang mungkin gak terbiasa menangani hal-hal kecil terutama dalam pengurusan anak,tiba-tiba harus ekstra jeli mengambil peran bagi anak. Butuh kemauan dan usaha yang keras,serta butuh kepekaan tertentu.Menjadi ayah yang baik memang butuh pengorbanan baik tenaga maupun waktu,tapi sangat worthed kok dengan predikat super dad di benak anak.

Jika bagi anak ayah adalah seorang super dad,anak biasanya sulit menentukan lebih dekat dengan mama or papa,karena bagi anak kedua orang itu adalah mataharinya,belahan jiwanya.

Hayo siapa mau jadi super dad?

Pernikahan My Lil’ Sista



Dua tahun terakhir saya diberi amanah sama ortu saya, adik saya Epit, tinggal di rumah saya, dan menjadi tanggung jawab saya dan Tori, secara financial sih tidak,karena adik saya sudah bekerja dan berpenghasilan sendiri. Setelah lulus kuliah ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan mencari kerja, maka ia tinggal bersama saya. Epit adalah adik bungsu saya,kesayangan papa mama saya,maka gak heran dia manja dan gak bisa apa2 selain berprestasi di bidang akademik. Sejak tinggal sama saya,saya gak menerapkan manja manjaan,buat saya semua orang harus mandiri, selayaknya perempuan lain ya harus bisa mandiri,setidaknya siap jika harus melangkah ke jenjang pernikahan. Si lil sista ini saya paksa untuk punya tanggungjawab,kadang gak tanggung-tanggung saya omeli habis-habisan kalo dia mulai malas-malasan. Di hari weekend pun kamar nya selalu saya gedor di pagi hari,saya ajarkan dia terjun ke pasar tradisional,belajar belanja dan mengatur menu rumah. 2 tahun sungguh membuatnya lebih maju, di bulan ramadhan lalu,dialah yang selalu bangun lebih dulu memberi komando ke para pembantu untuk mempersiapkan makanan sahur.

Dan kemarin setelah lebaran,saya sekeluarga mengantarkan si bungsu ini ke jenjang berikutnya,yaitu pernikahan. Saya pernah cerita sebelumnya,kalo adik saya berhubungan serius dengan salah satu sahabat saya,dan sekarang mereka mengikatkan diri dalam tali pernikahan.




Lega,senang sekaligus sedih,kenapa sedih?karena saya tentu akan merasa begitu kehilangan dia sebagai teman curhat saya di rumah,mungkin nanti saya akan merindukan sesi ngobrol ngalor ngidul sepulang kerja dan kadang curhat ini dan itu. Mungkin juga akan merindukan ritual tukar-tukaran baju,tas dan sepatu yang kerap kami lakukan setiap hari.Saya pasti akan merasa sedikit kehilangan nantinya…

Pernikahan my lil sista berlangsung Minggu 27 September 2009 lalu,di masjid Sidratul Muntaha di Jl.Gajah Mada Bandar Lampung,sebuah masjid tempat saya dan epit dulu mengaji di TPA-nya,saya ingat betul, dulu kami berdua setiap sore berjalan kaki ke masjid itu untuk belajar mengaji.Bagi epit yang saat itu masih TK mungkin itulah tempatnya petama kali belajar al Qur’an. Dan kemarin menjadi tempat bersejarah baginya….




Alhamdulillah acara akad nikah dan resepsi berjalan sangat mulus,gak kurang satu apapun meskipun sehari sebelum acara seserahan (Jumat 25 September 2009) terjadi bencana kebakaran di rumah sebelah rumah papa saya padahal saat itu tenda sudah berdiri tegak. Bayangin deh kalo aja Allah gak berbaik hati menghembuskan angin sehingga membawa arah api menjauhi rumah kami,saya yakin api sudah melalap tenda tersebut. Kebakaran besar itu telah meneganggkan kami sesaat,adik dan papa saya sampai jatuh pingsan, kami saat itu sudah pasrah!. Alhamdulillah angin benar2 menjauhkan arah api dari rumah kami,sampai pemadam kebakaran tiba dan memusnahkan api..alhamdulillah…Itulah cerita seru sebelum acara pernikahan adik saya .Dan kembali kami bersyukur,acara selanjutnya berlangsung sangat lancar..
Tinggal nanti harus lebih konsentrasi lagi untuk menyelenggarakan resepsi di Jakarta 24 oktober malam mendatang di Balai Sudirman,doakan semoga kembali lancar ya…

Thursday, September 17, 2009

Mudik...

Mungkin bangsa kita satu2nya di dunia yang memiliki tradisi mudik di hari raya, suatu kebiasaan yang saya pikir cukup unik. Bayangkan demi sebuah silaturahim orang rela melakukan pengorbanan biaya,waktu,tenaga bahkan kenyamanan. Hebat ya!betapa kuatnya daya tarik kenikatan silaturahmi, yang mungkin di Negara Negara lain yang namanya silaturahmi adalah hal paling akhir untuk dilakukan.

Pernah liat sendiri atau nonton di tivi kan gimana macetnya jalanan menuju jawa dan semua pelabuhan penyeberangan, itu baru dari sisi kendala teknis.Kalo ditilik lagi betapa gilanya ongkos untuk melakukan perjalanan itu, saya sering gak habis fikir,betapa mudik itu mampu membocorkan tabungan selama setahun!

Namun itu semua tidak menyurutkan hasrat orang-orang untuk tetap mudik setiap tahunnya…ck..ck..ck..




Saya sekeluarga bukan type “pemudik setia” ,saya emang punya kampong halaman,kampong halaman beneran,karena masih punya rumah,orang tua dan keluarga yang menetap disana,tapi sejak papa saya pension,papa dan mama lebih sering berlebaran di Jakarta.Kalo suami saya ngakunya aja punya kampong halaman,tapi keluarga dekat tidak ada lagi yang menetap di kampong,eheehhe…Jadi suami saya baru pertamakali seumur hidupnya merasakan mudik adalah pas menikah sama saya, selama perkawinan,kami sudah 2 kali merasakan mudik lebaran,dan dia begitu terkesan dan katanya jadi rindu hingar bingar mudik..ahahhaha..
Dan mertua saya yang juga seumur hidup tidak pernah merasakan mudik karena gak memiliki kampong ‘sungguhan’,akhirnya tahun lalu merasakan mudik,dengan cara ikut kakak ipar saya mudik ke kampong halaman istrinya di Solo.Dan mertua saya pun pulang ke Jakarta dengan sejuta cerita dan kesan tentang mudik,bahkan berniat ingin ikut-ikutan mudik lagi tahun berikutnya meski bukan ke kampong sendiri..
Hal sama dirasakan oleh rekan-rekan saya di kantor,kebanyakan dari mereka adalah pemudik sejati,yang kerjaannya nabung tiap bulan dan dihabiskan ketika mudik di kampong.Namun hal tersebut tidak menyisakan sesal maupun keluhan,justru sebaliknya,padahal tabungan terkuras,capek di jalan dan waktu terbuang begitu banyak.
Saya jadi berfikir fikir,bahwa mudik memang sudah menjadi tradisi mendarah daging.Sejuta ketidakefisienan dan sejuta kesulitan yang ada rasanya mudah saja diabaikan,demi mengobati rasa rindu pada keluarga dan kampong halaman…
Namun saya pernah menemui orang-orang yang pada kesempatan mudik dipakai untuk pamer kesuksesan di kampong,bahkan demi itu semua rela menghutang agar terkesan ‘sukses’ di mata orang kampong dan keluarga,ahahaha…
Yaah apapun motifnya,mudik adalah hal yang menurut saya adalah tradisi yang harus disikapi secara proporsional,tetap realistis dalam pengalokasian dana mudik,tetap well prepared menghadapi mudik,dan realistis menghadapi kendala mudik. Dan terakhir jadikan mudik sebagai wahana silaturahmi,bukan untuk pamer,takut berkahnya malah ilang…heheheh
Selamat mudik!

Friday, September 11, 2009

Novel Perahu Kertas

Kisah bermula dari persahabatan Kugy,Noni dan Eko yang kemudian mempertemukan Kugy si tokoh utama dengan Keenan,cowok blasteran belanda yang very talented untuk menjadi pelukis namun harus mengikuti keinginan orang tua untuk kuliah bisnis. Sementara Kugy adalah sesosok gadis unik yang gemar berkhayal dan membuat dongeng.Tokoh Kugy dan Keenan digambarkan sebagai sosok-sosok manusia berkarakter dan unik.Keunikan mereka berdua mengantarkan mereka pada sebuah rasa cinta kasih yang begitu kuat. Keunikan Kugy yang kerap menulis surat pada Neptunus dan menghanyutkan surat yang dibentuk seperti perahu kertas itu membuat karakter Kugy begitu kuat dan semakin unik, gak banyak orang memahami dirinya, kecuali Keenan yang selalu menganggap Kugy adalah sumber inspirasi.Apajadiny a jika Kugy ditarik menjauh dari kehidupan Keenan?Buku ini menceritakan seorang pekerja seni yang stuck seakan ‘mandul’ kehilangan sumber inspirasinya,persis seperti pelukis yang terpotong tangannya.
Seperti layaknya sebuah kisah percintaan,tentunya gak mudah bersatu, berbagai tokoh lain mewarnai kisah ini, mengulur2 si kisah cinta sejati memilih jalan memutar untuk bersatu.Ojos, Wanda, Remi bahkan Luhde sempat membuat situasi alur cerita menjadi sulit ditebak. Menarik!saya harus akui buku ini menarik.

Sebuah cinta manti sometimes memang bisa membuat gaya tarik menarik tersendiri, walo menurut saya itu semua gak bergeser dari yang namanya takdir dan jodoh dari Tuhan.
Novel ini gak Cuma kisah cinta nya yang memukau, tapi kisah mengenai perjalanan idealism mewujudkan talenta danmenajdi diri sendiri dalam membangun kesuksesan karier benar-benar mampu membuka mata,terutama bagi orang seperti saya yang memiliki problematika antara soul dan carier yang berlawanan, buku ini seperti memberi dan membagi kisah, bahwa seseorang akan begitu ‘hebat’ jika mengerjakan sesuatu dengan hati.Berkarier harus dengan idealism dan dorongan hati,gak banyak orang yang “jujur” menjalani semua itu, saya jadi melayang membayangkan Rene yg sering memberikan motivasi karier and soul yang sering saya dengarkan di hard rock FM.
Well..Dewi lestari memang jagonya dalam hal kayak gini, idealism dan alur crita yang menyentuh, jelas membuat saya malas beranjak meninggalkan buku ini, recommended banget..Dewi Lestari emang canggih tuh "tangannya"!

Tuesday, September 1, 2009

Selamat jalan Eyang

Ini puasa pertama tanpa eyang tercinta, memang saat-saat ini terasa begitu tak nyata rasanya..Yang bisa saya ingat eyang masih ada di rumah Pekayon, demikian yang secara reflek ada di pikiran saya,tapi ketika mencoba mengingat kembali fakta yang mencuat ke benak saya adalah eyang sudah tidak ada, beliau telah berpulang kepada Allah.

Kejadiannya adalah Sabtu 2 pekan lalu, 15 Agustus 2009 pukul 06.20 pagi di RS Kardiovaskular Puri Cinere. Sebenarnya sudah beberapa minggu lalu,tapi saya masih tidak sanggup membuka folder foto2 saat pemakaman,hati masih terasa sedih. Saya memberanikan diri memposting karena sudah beberapa teman mengingatkan,maka saya pun akhirnya memberanikan diri.




Memang seperti yang saya critakan sebelumnya eyang sempat kritis, kami telah pasrah dan iklas. Saya mencintainya tapi Allah jauh lebih mencintainya,ketika Eyang berpulang pun kami pasrah. Ketika mendengar kabar, saya ada di rumah, yang bertugas menunggu eyang adalah Mama saya dan Tante Betty, ditemani beberapa sepupu saya Rizki, Adit dan Yudha. Eyang pergi begitu tenang, bahkan bisa dibilang hampir tidak ketahuan. Tau-tau para perawat dan dokter jaga sudah masuk ke ruangan karena menangkap signal denyut nadi melemah dari ruang kontrol, dan itu berlangsung kurang dari 10 menit. Mengingat sebelumnya eyang masih di sonde (memasukkan cairan makanan dari hidung) dan mandi pagi dalam keadaan denyut nadi,jantung dan tekanan darah yang normal, meski kesadaran sudah masuk tingkat koma. Menurut mama dan tante betty, eyang pergi layaknya orang tidur saja, tidak ada gerakan ekstrem sebagai tanda maupun hembusan nafas panjang. Insyallah ia pergi begitu tenang…

Pagi itu saat dikabarkan,saya segera bersiap, hampir dikatakan saya tidak menangis,saya berusaha untuk itu. Tapi apa daya di kamar mandi saat saya sendiri tiba-tiba saya seperti flashback mengingat hari-hari yang lalu yang pernah saya lalui bersama eyang,dan disitulah air mata saya tak tebendung,kenangan-kenangan itu terasa begitu indah dan mengharukan.





Banyak kenangan begitu indah kami lewati bersama,begitu banyak mimpi2 indah bersama kami wujudkan. Eyang selalu ingin dan berdoa memiliki cicit sebelum wafat,dan Alhamdulillah untuk pertamakalinya saya mempersembahkan cicit baginya dari rahim saya,Calulla lalu disusul oleh saudara2 saya lainnya yang ikut memberinya cicit.Begitu banyak rasa sayang dan bangga yang ia curahkan pada saya dan putri saya,kadang saya merasa saya ke-g e er-an kalo dia selalu memuji putri saya,seolah putri saya adalah kebanggannya.Kadang masih terngiang di telinga saya bagaimana perasaan saya ketika mengangkat telepon yang langsung terdengar sapaanya “Hellow sayaaaang..”. Saya teringat tahu isi bikinannya,saya teringat huzaren sla kebanggaannya,saya teringat bincang2 kami sambil minum the membahas gossip selebrity, saya pun kerap teringat sama diskusi seru tentang Negara dan demokrasi antara Tori dan eyang,secara eyang adalah salah satu pejuan di jaman jepang.Semua itu sungguh indah dan ‘ngangenin.




Eyang di semayamkan di rumah Cinere, sampai sana saya langsung sibuk-sibuk mengurus segala keperluan, hingga rasa kehilangan tergantikan dengan kesibukan mempersiapkan pemakaman. Saya sempat ikut memandikan eyang,saat itu kami semua anak dan cucu perempuan partisipasi memandikannya. Tapi lagi2 saya cengeng,well…saya nangis,meski terkendali. Terasa banget kalau saya telah kehilangannya.Saya sangat bersyukur memiliki suami seperti Tori,pada saat itu dia begitu tanggungjawab mengurus semua keperluan makam di TPU Kampung Kandang mewakili keluarga,dan semua alhamdulilah berjalan lancar dan mulus.Terimakasih Tori.Hari itu juga eyang dimakamkan, lebih baik disegerakan begitu sunahnya.



Itulah end of life Eyang, sedih jelas kami rasakan,tapi saya pribadi merasa lega karena sampai akhir hidupnya saya sempat memberikan kebahagiaan padanya sebagai balasan semua kbaikan dan kebahagiaan serta kasih sayang yang ia berikan. Di hari-hari akhirnya,saya sempat mengurusnya,menemaninya,menghibur sakitnya dan menunjukkan rasa kasih kepadanya. Allah berkehendak lain,Allah menyayanginya dan memintanya kembali ke pangkuannya. Saya melepasnya dengan iklas, mencoba tegar dan melepasnya dengan senyum, dan membisikkan dalam hati how I love her.

Sehari sebelum meninggalnya beliau,saya bertemunya untuk terakhir kali di RS, saya menciumnya dan mengatakan “Eyang,I love you”,saya tau dia masih memiliki kesadaran meski hanya 40%,saya tau ia mendengar saya,ketika saya meletakkan kepala saya di sebelah kepalanya ia menekukkan tangan dan memegang kepala saya, ternyata itu salam perpisahan,keesokannya eyang sudah pergi.mengingat moment itu saya ingin menangis, betapa kami berpisah dengan saling mengungkapkan rasa sayang satu sama lain.

Yang pasti saat ini saya masih suka dejavu kalo eyang masih ada, saya belom terbiasa untuk menyatakan eyang sudah enggak ada. Mungkin lebaran nanti saya baru terasa,kalo eyang sudah gak bersama kami.

Selamat jalan eyang…We love you!

(Dedicated to Our beloved Eyang, Ny.Hj.Siwi Syamsini Soesilo Djoyosoediro 13 Mei 1925 – 15 Agustus 2009)

Friday, August 14, 2009

Hari hari Bersama Eyang

Saya terlahir dari suku yang beragam,Papa saya orang Sumatera sementara mama saya orang Jawa dengan budaya Jawa yang kuat. Saya dibesarkan oleh Papa dan mama dengan pola didik campuran budaya. Namun di Usia 18 tahun saya pindah dari Lampung merantau ke Jakarta untuk kuliah. Dan sejak itu saya tinggal bersama Eyang (eyang putri ibunda mama) di Utan Kayu.

Eyang yang merupakan perempuan Jawa dengan kehidupan ala ningratnya membuat saya begitu shock atas pola didik dan aturan di rumah yang diterapkan Eyang. Eyang menerapkan budaya disiplin dan tata karma ala ningrat yang agak sulit saya cerna, karena saya dibesarkan dalam pola asuh yang cenderung general.



Eyang bersama Lulla dan Aya

Selama proses itu sungguh gak mudah bagi saya,apalagi saat itu usia saya terbilang ABG.Berbagai benturan terjadi, saya merasa asing dengan pola didik eyang, dan eyang pun berkeras melihat saya sebagai anak nakal yang terlalu bebas. Jangan tanya gimana saya sering dimarahin, diomelin,diprotes bahkan ‘dimusuhin’ sama eyang kalo saya bertindak tidak sesuai dengan apa yang eyang mau. Proses itu proses belajar bagi kami berdua dan sangat tidak mudah, namun lambat laun kami mulai saling dapat memahami. Ada banyak hal prinsip yang saya manut sama aturan eyang, dan ada hal-hal kebiasaan saya lainnya yang dapat di excuse oleh eyang. Misalanya saya yang berantakan,malas bangun pagi dan manja mau gak mau harus merubah diri sesuai kemauan Eyang,karena dalam pola didik yang diterapkan eyang kerapihan, bangun pagi dan bertanggungjawab mengurus rumah adalah hal mutlak yang wajib dimiliki oleh semua perempuan. Mau gak mau saya mati-matian membiasakan diri memenuhi tuntutan itu. Lalu eyang pun terpaksa menerima kebiasaan saya seperti suka jajan sembarangan dan cekakakakn tanpa aturan, karena dalam budaya jawa jajan sembarangan itu gak baik dan tertawa lebar gak keru keruan itu tabu. Eyang ngalah untuk hal itu. Maka sejak itulah kami saling mengalah dan mulai damai hidup berdampingan.

Di rs saat Lulla lahir 4 tahun lalu

Setelah saya menikah saya ‘keluar’ dari rumah Utan kayu, ikut suami. Ketika Lulla lahir saya pindah ke mertua, karena rumah Depok yang saya dan Tori beli belum siap huni. Usia Lulla 3 bulan, saya diminta balik ke Utan Kayu menemani Eyang yang ternyata mulai didiagnosa mengalami masalah pada jantung. Saya kembali pindah kesana, menemani eyang.Cukup kesulitan rasanya untuk pindah ke rumah sendiri. Sementara Tori yang sudah memprovide rumah buat saya dan Lulla jelas sudah tidak sabar ingin pindah ke rumah sendiri. Negosiasi terus berjalan dengan eyang supaya saya bisa pindah ke rumah sendiri dan eyang pun mau mulai meninggalkan rumah Utan Kayu dan tinggal di rumah anak-anaknya. Eyang jelas masih berkeras untuk tinggal di Utan Kayu,namun ia memberi restu pada kami untuk pindah ke rumah sendiri dengan catatan Lulla harus ulang tahun pertama di rumah Utan Kayu. Maka pada ultah pertama Lulla kami merayakan di rumah itu, eyang senang bukan main,ini kali pertama baginya menyiapkan ulang tahun buat cicit,maklum kala itu baru Lulla cicit yang dimiliki. Rasa sayang dan bangganya dengan Lulla luar biasa,dia kerap menyebut Lulla si ayu,karena menurutnya paras Lulla itu ayu dan ‘ndlalah Lulla itu emang tabiatnya kalem persis gambaran perempuan Jawa yang tertanam di mindset eyang selama ini.

Persis tanggal 25 maret 2006 kami pindah ke rumah Depok, rumah yang kami bangun bersama. Sejak itu eyang tinggal sendiri (hanya dengana ara pembantu), gak lama dari itu eyang sakit, masalah di jantung mulai menggerogoti kesehatannya. Maka Eyang pindah ikut anak-anaknya,dari Semarang, Bekasi sampai Cinere.

Lebaran di rumah depok

Lebaran tahun lalu memiliki kesan bagi saya sekeluarga, eyang memutuskan berlebaran di rumah Depok, senang bukan main rasanya karena kalo ada eyang pasti tamu yang hadir juga banyak. Saya open house akhirnya, seminggu menggelar meja makan untuk menjamu tamu- tamu eyang. Saya dan Tori yang basicnya senang kumpul-kumpul merasa begitu happy,dan mungkin kalo ingat lebaran tahun lalu suka senyum sendiri, sungguh berkesan!


Merayakan Ultah Lulla ke 4

Pada saat ultah Lulla keempat pada bulam maret lalu, saya lagi-lagi memiliki kesan khusus,saat itu eyang sedang di rumah tante betty di bekasi, pagi-pagi eyang menelpon Lulla untuk mengucapkan selamat ulang tahun, padahal eyang itu pikun dan terganggu pendengarannya,tapi ia masih ingat ultah cicitnya tercinta,dan masih menelpon walau saya juga tidak yakin dia mendengar dengan baik pembicaraan di telpon atau tidak. Kesan yang saya tangkap blio kecewa karena di hari itu kami tidak membuat perayaan apa-apa untuk Lulla, eyang memang memanjakan Lulla sangat. Bahkan dari oom dan tante saya, saya mendengar eyang bolak balik ngomong mau kasih apa ke Lulla saat ulang tahun, how amaze… Akhirnya sore itu saya yang sudah membuatkan kue tart untuk Lulla akhirnya membawa kue tart beserta birthday girl-nya ke bekasi,ke rumah tante betty,hanya untuk tiup lilin bersama Eyang Buyut. Dan kami semua bernyanyi bersama mengiringi Lulla tiup lilin, eyang seneng banget….


Pada saat ultah Eyang 13 Mei lalu, kami ramai-ramai berkumpul merayakannya, kebetulan eyang lagi di Cinere di rumah Pak de jimmy. Saya bikin tumpeng, tante betty beli tart, tamu yang diundang juga lumayan ramai, hampir semua cucu kumpul,we seriously celebrating that day!at that time eyang ultah ke 84 dan bu de andry istri pak de jimmy ultah ke 48, so sweet…hari itu kami foto2 bersama, lucu dan membahagiakan banget,eyangkumpul dengan kelima anaknya dan cucu-cucunya.




Perayaan Ultah Eyang ke 84

Dan mungkin itu kumpul-kumpul ceria kami yang saya gak tau apakah bisa terulang apa enggak. Bulan Juni eyang jatuh di Bekasi.Tulang panggul patah,sejak itu eyang tergeletak di tempat tidur. Berbagai upaya penyembuhan, dan semua gak ada hasil. Sampai eyang meminta dilakukan operasi pengangkatan tulang yang patah untuk diganti dengan tulang buatan. Semua setuju, eyang bahkan memanggil saya dan Tori sebelum ia masuk RS untuk operasi, eyang sempat minta dibuatkan pernyataan yang distempel oleh Notaris yang menyatakan keinginan operasi adalah keinginannya sendiri,sehingga apapun yang terjadi anak-anaknya tidak boleh ada penyesalan.



1 jam sebelum eyang operasi tulang

Dan pada tanggal 27 Juli eyang dioperasi di RS Siaga,sebelum masuk ruan goperasi eyang looks very happy,dia melambaikan tangan ke kami di depan pintu ruang operasi,saya hamper nangis,saya takut operasi gagal dan eyang tak kembali. Namun operasinya Alhamdulillah berjalan mulus, eyang bahkan sempat bisa berdiri. Tapi anehnya kondisi kesehatan eyang in general malah makin merosot. Kata dokter, darah yang dikeluarkan saat operasi tidak tergantikan oleh asupan nutrisi yang masuk,karena eyang makannya sangat sedikit dan susah makan.Seminggu kemudian dipulangkan ke rumah, namun kondisi perawatan di rumah tidak menjadikan lebih baik,eyang makin terus merosot.Beberapa kali berhalusinasi, bahkan hari minggu lalu saat saya merawatnya ia sudah berhalusinasi akan banyak hal dan tidak mau makan sama sekali.

Akhirnya Senin, 10 Agustus lalu, eyang masuk ICU di Kardiovaskular Hospital Puri Cinere, sejak itu eyang makin terus merosot kondisinya. Dokter saat ini sudah menyerah,mereka tak lagi bisa melakukan apa-apa untuk membuat eyang kembali pulih. Tadi malam saat saya datang,tangan eyang sudah bengkak, ternyata cairan dalam tubuh sudah tidak mengalir ke tempat yang seharusnya,paru-paru sudah ada yang terndam cairan,eyang sudah tidak bisa bicara, dan tergeletak makin lemah dan terlihat menderita.



Membimbing eyang saat eyang sempat kritis

Kesedihan yang ada di hati saya melihat beliau demikian tidak lagi dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Saya iklas,apapun yang terbaik bagi eyang saya serahkan pada Allah. Kondisi eyang naik dan turun, sudah 3 hari ini sejak dokter ‘angkat tangan’ kami menemani dan menuntun eyang . Kami sadar,mungkin ini adalah jalan yang mendekatkan kami akan perpisahan dengan dirinya. Tapi apapun yang terbaik kita harus pasrah,toh apapun didunia ini datangnya dari Sang Pencipta,maka kembali pulalah padaNya.



Mohon doa agar Eyang dapat melewati kesulitan ini dengan lancar...

Yang pasti saya begitu bahagia karena pernah melewati hari-hari bersamanya,senang dan sedih yang kami lewati membuat saya makin menyayanginya. Blio special buat saya sama seperti kedua orang tua saya,karena sebagian karakter yang tumbuh dalam diri saya adalah karakter yang dibentuk olehnya, dimata saya dia wanita yang saya kagumi.Dia adalah sosok perempuan perkasa, seorang wanita karier yang independence membesarkan 5 anak dalam status menjanda ditinggal meninggal suami di usia 32 tahun,perfecto untuk urusan dapur, creative,organisatoris,pandai begaul dan modis.Saya kagum dan terinspirasi olehnya…

Terimakasih ya Allah atas hari-hari indah bersama Eyang, semoga engkau berikan yang terbaik baginya…amin!

Thursday, August 6, 2009

Berdandan..bagi kamu saya dan perempuan lainnya…

Ada gak diantara kalian yang gila dandan or may be sama skali gak suka dandan?
Selama saya hidup saya kerap dikelilingi perempuan-perempuan yang suka dandan, baik dandan dalam arti kata ber make up maupun bergaya. Hampir semua perempuan terdekat saya doyan tampil gaya. Dari Eyang, tante,kakak beradik sampe temen gank, semuanya aware sama urusan mempercantik diri.Mungkin basicnya dari Eyang yang sampe tua masih kenal tas branded, perfume branded dan barang2 berkualitas.Eyang pun orang yang menanamkan konsep berpakaian serasi kepada kami. Eyang pula yang mengajarkan konsep rapih dan chick dalam berpenampilan. Eyang yang didikan Belanda emang strickly untuk itu, sayangnya hal ini gak menurun ke mama saya, blio cenderung asal untuk urusan ini. Tapi thanks God papa saya adalah orang yang aware sama penampilan, blio doyan bergaya, koleksi jasanya cukup mumpuni,di usia senjanya pun blio masih suka pakai jeans dengan potongan bootcut yang modis dan kaos body fit yang trendy. Dari papa dan Eyang ini kami bertiga (saya Mbak eka dan epit) jadi punya hobby dandan dan punya keinginan untuk selalu gaya.

Emang diantara bertiga saya yang relative lebih doyan dandan, saya suka sama detail-detail penampilan dan saya pun suka menjajal-jajal make up. Tapi kalo soal ngikutin trend kami bertiga mudah ‘ngiler’ melihat barang yang lagi ‘in. Kadang malah saling tuker menuker barang. Saya dan epit yang sebelahan kamar benar2 sudah gak punya privacy lagi dalam urusan barang sandang, tas saya = tas dia,sepatu saya = sepatu dia, gak jelas kepemilikannya,saking rajinnya tuker pakai.

Teman satu gank saya?jangan Tanya…semuanya doyan dandan, apalagi 2 sobat saya Anis dan Lia, iih…kisruh deh sama mahluk-mahluk ini. Di kantor pun saya punya sahabat yaitu Fitri yang isi otaknya pun sama kayak saya.Isi lingkungan social saya berisikan orang-orang yang membentuk karakter saya sedemikian rupa menjadi seperti sekarang ini, jauh sebelum hari ini saya emang udah kayak gini, banyak gaya kalo kata Mama saya.

Dan ketika saya berada di kantor ini, saya sempat kaget karena kebanyakan perempuan disini tidak suka berdandan, kebanyakan mereka tampil apa adanya ke kantor,malah jangan-jangan berbedak pun tidak. Saya merasa jamak saja melihat hal semacam itu, buat saya dandan atau tidak, gaya atau tidak gaya itu adalah pilihan. Namun buat saya tampil rapi itu semacam atribut wajib, dan bergaya adalah sebuah ritual wajib, sama halnya kayak mandi dan sikat gigi, meski harus di catat gak semua barang saya mahal, saya ini bukan type orang yang gak akan beli baju kalo gak branded. Buat saya baju dan aksesori beli dimana aja pun jadi, tapi kalo mau nyaman,untuk sepatu dan tas emang kita harus menyisihkan kocek lebih guna memperoleh barang berkualitas bagus. Namun perbedaan lingkungan yang sekarang saya jalani ternyata tidak memberi pengaruh banyak pada saya,namun justru memberi ‘pengaruh’ banyak pada orang lain. Saya sempat mendengar ada beberapa ladies yang merasa saya ini berlebihan, ada yang dengan nada mencibir mengatakan gaya saya ‘bak selebrity, dan ada yang paling parah, seseorang pernah nyeletuk ke saya : “sayang ya ruangan lo dipojok, jadi lo gak bisa berlenggak lenggok di ruang tengah (ruangan yg paling rame karyawan mksdnya), gak bisa deh lo mamerin gaya spektakuler elo…”
Saya mendengarnya cukup kaget, OMG…saya berpakaian rapi tidak untuk lenggak lenggok dan menarik perhatian orang loh, buat saya tampil rapi itu wajib,saya malah gak pede kalo ngantor dengan gaya asal,apalagi kalo gak serasi.
Sebenernya dandan itu untuk apa bagi kaum perempuan?

kalo buat saya yang emang suka gaya ini,jelas dandan adalah sebuah sarana mengaktualisasikan diri. Ibarat pelukis wajah adalah kanvas dan bagi seniman tubuh adalah lempung yang siap dibentuk dengan keindahan busana yang kita pilih.Dandan gak ubahnya dengan seni. Gak ada yang salah dan perlu disalahkan kalo ada perempuan suka dandan. Yang salah adalah apabila perempuan lebih mementingkan untuk memoles tampilan luar dibandingkan memoles potensi dalam dirinya. Apalagi kalo perempuan sibuk memoles penampilannya sampai tidak lagi mengindahkan kepribadiannya, agama yang dianut dan kebahagiaannya sendiri. Buat saya dandan itu harus dalam takaran yang wajar,dalam takaran yang masih bisa dibilang membawa kebahagiaan bagi suami, akan menjadi tidak wajar dan perlu dikoreksi apabila karena demi tampil cantik suami kita malah tersiksa, misalanya untuk tampil cantik kita ‘merampok’ atau ‘memerah’ isi kantongnya atau dengan tampil cantik kita malah gak bisa jaga diri dari godaan kaum adam yg tidak halal bagi kita.
Ada orang yang pernah ber-argumen ke saya “ah saya gak mau dandan kalo ke luar rumah apalagi ke kantor karena saya hanya mau dandan di depan suami aja”.

Mungkin pendapat orang ini benar, tapi coba ditelaah deh, beda ga dandan sama jorok kan jauh ya, sementara orang yang komentar ini benar-benar berbadan bau, memakai baju yang ‘ancur’ jauh dari serasi dan bikin sakit mata yang melihat serta dekilnya bukan main. Sementara orang ini punya kewajiban untuk berhubungan dengan banyak orang. Mungkin orang yang baru pertama bertemu dengannya akan menilai orang ini jorok sekali karena bau ketiaknya merebak kemana-mana, dan mungkin dengan melihat gaya pakaianny a yang jauh dari rapih membuat orang enggan bekerja sama karena terkesan gak professional dan mungkin ada juga yang menilai “ya ampun..ni orang kesian amat suaminya gak ngebeliin kosmetik kali ya,lusuh amat”. See..ujung-ujungnya bukan menjaga kehormatan suami kita malah menjatuhkan suami sendiri dan menjatuhkan diri sendiri, untuk apa?
Suami saya pernah berpendapat, “kamu mo gaya kayak apapun juga, terserah,tapi harus tutup aurat,karena itu hanya aku yang berhak. Dengan kamu tampil cantik,rapih dan gaya sebenarnya yang paling beruntung itu aku,karena kamu mendongkrak image aku” .
Sometimes suami juga merasa begitu bangga jika menggandeng istri yang cantik bergaya dan bersih,selain saya katakan tadi factor brain dan keimanan diatas segala-galanya. Tapi sebagai perempuan,selagi kita bisa kenapa tidak untuk selalu tampil sempurna baik dalam dan luar.

Jadi menurut saya, berdandan bagi perempuan gak perlu disikapi negative maupun kaku,karena ada yang mengaggap ini adalah kebutuhan,sepanjang mereka mampu, tidak mengganggu orang dan tetap dalam koridor keagamaan,serta dilakukan dengan cerdas, so why not?

Wednesday, August 5, 2009

My Life, My Secret-nya Krisdayanti



Dalam waktu semalaman ditambah waktu perjalanan ke kantor, saya menyelesaikan marathon pembacaan buku baru koleksi saya yang saya beli kemarin malam di Gramedia. Kali ini saya membaca buku My Life, My Secret By Krisdayanti. Well..saya akui saya menggemari diva satu itu, saya suka totalitas dia dalam menekuni kariernya, saya suka semangat yang tersemayam dalam dirinya dalam membentuk kariernya. Sebatas itu saya mengagumi, dan itu sudah membuat membuat saya penasaran bagaimana dia dapat menapaki kariernya, sometimes hal itu memberi spirit tertentu ke saya. Artinya kesuksesan itu dapat diraih apapun dan gimanapun caranya, dan kesuksesan itu dapat kita pelajari dari kesuksesan orang lain.

Lanjut dengan cerita tentang buku yah, di buku diceritakan tentang beberapa hal, antara lain tentang keluarganya (ibunya,yuni dan adiknya), teman-temannya (including kasus perseteruan dengan Erwin Gutawa), Kariernya,Kisah cinta dengan Anang dari awal bertemu sampai berumah tangga, tentang dunia narkoba yang sempat mampir kedalam hidupnya, dan yang paling bikin merinding adalah kisah operasi-operasi yang dilakoninya.

Membaca buku itu membuka mata saya, bahwa ada kehidupan lain yang lebih keras meski terselimuti dengan kemewahan dan hingar bingar popularitas. Artinya gak ada yang mudah di dunia ini, untuk meraih sesuatu memang harus kerja keras, tapi ketika kita sudah meraihnya siapa bilang kita tak perlu kerja keras?justru mempertahankan jauh lebih sulit daripada meraih..KD mencertitakan dengan gamblang di buku ini tentang itu semua.

Dan yang paling penting bagi kaum wanita